-----Tolong jangan mengatakan bahwa seseorang adalah pecundang
jika anda tidak tahu prosesnya-----
“Bukankah sering kita menjumpai orang yang punya minat sosial masuk
jurusan teknik, minat sastra masuk kedokteran, minat musik masuk akuntansi?
Terkadang orang terlalu pecundang untuk mengikuti kata hati mereka, sehingga
dalam sisa – sisa hidupnya mereka berkutat dengan sesuatu yang sebenarnya tidak
mereka cintai. Mereka bekerja demi uang, sekolah demi gelar, berdandan demi
prestis dan lain sebagainnya. Setahu saya orang – orang besar semuanya bekerja
atas nama cinta atau passion.
Sementara orang – orang yang kurang beruntung menjalani hidupnya melakukan hal
yang sebenarnya tidak mereka cintai demi uang, demi harga diri, demi gelar dan
sebagainya. Saya percaya bahwa ketika orang itu sukses bukan ambisi yang
mendorong mereka, tetapi karena rasa cinta atau passion terhadapa apapun yang mereka
kerjakan. Kebanyakan orang memandang cinta sebagai sesuatu yang sepele, sekedar
perasaan sayang dan ketetapan hati. saya melihat cinta dari sisi yang lain dan
percayalah bagaimana cinta bekerja. Steve Jobs besar karena mencintai desain
dan komputer, Frank Sinatra besar karena mencintai musik, Einstein besar karena
mencintai fisika.
Kebanyakan dari kita terlalu takut untuk mempercayai hati kita. Ketika
kita sebenarnya mencintai musik, orang berkata, mau jadi apa kau kuliah musik?
Pengamen? Orang – orang seperti ini disentil sedikit oleh orang lain langsung
goyah. Saya percaya hakikat hidup sebenarnya bukan berlibur, tapi bekerja.
Coba kalian bayangkan jika sebagian besar hidup kita, kita habiskan untuk
mengerjakan hal – hal yang tidak kita sukai, betapa malangnya hidup kita. Rata
– rata kita hanya berumur 60 tahun dan kita hidup mengerjakan hal – hal yang
jelas – jelas tidak kita sukai.”
Maaf sebelumnya
karena saya mengutip kata kata yang ditulis oleh seseorang di blog pribadinya.
Jujur kata kata itu sangat melukai perasaan saya dan mungkin beberapa orang
yang tengah berjuang untuk menemukan passion mereka ditengah
keterjebakan mereka dalam dunia yang telah mereka terjuni. Baiklah, sedikit
cerita kenapa hati saya sedikit sedih saat membaca artikel diatas. Saya adalah
seorang mahasiswa peternakan di sebuah universitas di suatu kota. Entah saya
belum tahu pasti apa alasan saya memilih jurusan peternakan dalam opsi jurusan
saya saat itu. Padahal dulu saya begitu yakin dengan impian saya dan passion saya
yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan peternakan. Namun, saat ini saya
tidak pernah mempermasalahkannya. Saat banyak individu dan populasi manusia
yang menanyakan kepada saya tentang bagaimana kabar saya saat ini yang tengah
terjun dan belajar di jurusan tersebut, saya selalu berusaha menjawab dengan
penuh senyum dan cerita cerita menarik dengan penuh semangat. Saya senang saat
mereka tertawa mendengar cerita cerita yang bagi saya mengagumkan saat saya
berada di jurusan tersebut. Entah saya tidak pernah tahu hati manusia, apakah
itu tertawa karena terhibur, kagum atau bahkan tertawa karena menganggapnya hal
yang begitu tidak penting dan remeh. Dari awal, saya tidak pernah peduli akan
hal itu. Saya hanya individu biasa tanpa keistimewaan dan bakat luar biasa
apapun yang berusaha menghargai diri saya dan perjuangan saya sendiri untuk
dapat bertahan di jurusan yang sulit dan penuh dengan tekanan ini.
Bukankah dalam
perjalanan hidup tidak ada yang kebetulan, kita saja yang sering merasa
“kebetulan” karena sesungguhnya Allah SWT telah mencatat seluruh peristiwa yang
terjadi, bahkan selembar daun yang terjatuh dari rantingnya pun telah tercatat.
“Tiada
sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (An Naml, 27;75)
Tentunya seseorang
memilih pilihan yang terkadang tidak sesuai dengan impiannya maupun pilihan
yang melukai harapan akan impiannya karena suatu alasan yang mungkin tidak akan
orang lain mengerti. Karena pada dasarnya masalah yang dialami oleh setiap
individu akan berbeda beda. Saat itu saya memilih jurusan peternakan karena
banyak sekali pertimbangan yang saya pikirkan. Termasuk peluang, ekonomi dan
juga perasaan orang tua saya. Jadi saat ada seseorang yang mengatakan bahwa
seseorang yang memilih bidang yang tidak sesuai dengan passionnya adalah
pecundang dan pembohong besar , maka hati siapa yang tidak terluka ?
Menurut Tafsir
Qurtubi, semua takdir makhluk Allah telah ditulis-Nya di Lauh Mahfuz, bisa saja
dihapus atau diubah oleh Allah atau Allah menetapkan sesuai dengan
kehendak-Nya. Kemudian yang dapat mengubah takdir yang tertulis dalam Lauh
Mahfuz itu hanya doa dan perbuatan baik atau usaha dari individu tersebut.
Maka tolong jangan
dengan mudah mengatakan seseorang itu pecundang hanya karena ia memilih bidang
yang tidak sesuai dengan impian awal mereka. Mungkin di dunia ini ada sebagian
orang yang ditakdirkan sukses karena pilihan yang sesuai dengan passion mereka
dan sebagian lagi sukses dalam keterjebakannya dalam dunia yang awalnya mereka
anggap tidak sesuai dengan impian mereka, namun mereka justru menemukan
semangat baru dan hal hal baru yang dapat membuat mereka untuk bangkit dan
merintis kesuksesan di bidang mereka saat ini. Yang terpenting adalah melakukan
yang terbaik dengan cara yang diridhai oleh Allah SWT. Proses dalam hidup
kita ditawarkan pada berbagai macam pilihan mulai dari hal kecil seperti memilih
pakaian yang mau kita kenakan, memilih jalan ke kiri atau ke kanan, memilih
pasangan hidup, memilih pekerjaan dan banyak lagi yang menentukan kondisi yang
saat ini terjadi pada diri kita. Dalam buku Awaken Giant Within, Anthony
Robbin menyampaikan keputusan yang diambil akan menentukan takdir. Jadi jangan
pernah menilai seseorang itu pecundang atas apa yang telah dia pilih dengan
pertimbangan yang telah ia tentukan.
Seandainya kita mau
merenung dan sedikit berfikir, sungguh di setiap apa yang telah Allah takdirkan
untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik
ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga
ketika Allah menimpakan suatu ujian kepada kita, berupa
ketidaksesuaian bidang yang kita tempuh dengan passion awal kita,
maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita meyakini
bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk
dunia kita maupun akhirat kita. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini
dengan kacamata nikmat dan rahmat, jangan dengan cepat menjatuhkan semangat
orang lain yang tengah berjuang menemukan passion dan jalan
kesuksesannya di bidangnya saat ini dengan mengatakan bahwa dia adalah seorang
pecundang.
Karena Allah SWT pun
telah berfirman,
“Bisa
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)
Dan semoga dilain
kesempatan, apabila kau menemui seseorang yang dengan suatu alasan telah dengan
berat memilih bidang yang kamu anggap tidak sesuai dengan impiannya terdahulu
maka berilah ia semangat, karena mungkin tidak mudah baginya untuk
memulai semua ini. Katakan kepadanya bahwa kamu akan selalu mendukungnya dan
mendoakan yang terbaik untuknya.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar