Sabtu, 12 Desember 2015

Tentang Angin, Waktu dan Musim yang Bijak

"waktu dengan begitu bijaksana mengajarkan dua orang yang dulunya saling mengingat untuk perlahan melupakan dan menyembuhkan luka di hati masing masing" 


Assalamu'aalaikum wr. wb.. 

Sudah lama kita tak saling menyapa... apakah disana butiran salju berwarna putih tenngah turun? 
sangat sedih memang untuk menjadi dua orang yang saling melupakan. 
Namun, waktu dengan bijak mengajarkan setiap orang untuk pelan-pelan mengurangi frekuensi untuk mengingat seseorang yang memang harus berlalu.. 

Tentang saling Melupakan ?
Angin di pertengahan  musim hujan  bahkan dengan begitu bijak sengaja untuk menjadi tidak terlalu dingin untuk dapat membekukanmu dari ingatanku, sehingga perlahan.... aku dapat untuk beberapa waktu tidak mengingatmu lagi.. 

Sekarang, sudah berapa lama sejak kau bilang ingin mengirimkan paket salju untukku , agar aku dapat menyentuhnya secara langsung ?
Entahlah... mungkin sudah ribuan hari yang lalu .. 

Tentang saling menjauh ?
Entah siapa yang memulai, sebelumnya satuan jarak memang telah memperingatkan kita tentang itu, Namun kemudian... rutinitas serta realita yang perlahan tanpa kita sadari telah menuntun kita pada rentang kilometer yang semakin berpangkat. 

Tunggu.... mungkin bukan masalah banyaknya perpangkatan dalam satuan kilometer jarak. namun, tentang hati yang perlahan tertutupi oleh kabut pekat di penghujung hujan akhir tahun. 

Dan tentang impian serta kisah yang sempat kita rangkai bersama..... tentang pengharapan yang sempat tak berujung , serta tentang perasaan yang sempat bersemi kemudian perlahan terbengkalai... 
jika itu menyisakan luka, semoga luka itu lekas pulih..

Tentang debaran hati yang mulai terasa konstan saat mendengar namamu... untungnya, laju perubahan musim juga dengan bijaksana telah membuatnya terasa biasa saja... 

Entah... mungkin di lain musim, di lain dekade dan di lain tempat.. 
saat kita benar-benar bertemu..
entah sebatas kenangan ataukah mungkin kebahagiaan . Kuharap.... kita bisa saling menatap dan tersenyum tanpa ada luka yang terlintas dalam memori kita. 

"semoga Allah tetap memberikan kehangatan kepada hatimu ditengah tumpukan salju yang membekukan kotamu, semoga saat kita berpapasan di suatu tempat, di suatu musim, di suatu waktu maupun di suatu masa, kita masih mampu mengenali garis senyuman yang terukir diwajah satu sama lain."  


Rabu, 07 Oktober 2015

kemarau yang mundur


"entahlah..... sampai detik ini aku masih berharap hatinya tetap untukku. "

hujan yang tak kunjung datang bulan ini, di suatu tempat mungkin dia bosan tertawa bersama musim panas. 
mungkin... kemarau memang harus mundur.. .dan membiarkan gadis hujan untuk datang menghiasi hati pemuda itu. 
namun, nyatanya kemarau masih tetap saja egois. bertahan terlalu lama ... meski ia tahu, sebagian hati pemuda itu tak lagi terbuka untuknya. 
lalu.. salah siapa? kemarau kah ?
bukan.... ini salahnya, salah pemuda yang tak berkata terus terang kepada kemarau untuk pergi. 
seandainya ia lebih tegas dengan hatinya dan mengatakan "maafkan aku, namun aku berharap hujan berada di sisiku.. bisakah kau melepaskan perasaanmu terhadapku?"
jika ia mengatakan itu... pastilah kemarau akan pergi dan berlalu bersama angin muson timur dan berjalan ke arah belahan bumi yang lain untuk bertemu seseorang yang bersedia memungut kepingan hatinya. mungkin kemarau memang harus pergi dan mengizinkan angin muson barat bertiup mengantarkan musim hujan kehati pemuda itu ..
dengan begitu, kemarau tak akan lagi terlihat egois untuk terus berada di hati pemuda itu. 
ya.... sepertinya begitu. 
namun, apakah ada yang memikirkan luka sang kemarau?
apa kau melihat asap? mungkin hati kemarau tengah terbakar menyaksikan hujan yang nampak melankolis dan cantik dalam angan angan pemuda itu. 
by : nurul hidayy ~~~
ditulis saat kemarau masih bertahan di kota semarang 


Senin, 23 Maret 2015

Catatan singkat..

Banyak hal indah yang terselip diantara cerita kehidupan kita yang mungkin belum kita sadari.. cobalah untuk lebih melihatnya dengan hatimu dan lihatlah., mungkin di sekeliling jemari kakimu tengah terdampar sekumpulan bunga ungu kecil yang berjemur di bawah sinar matahari bulan maret. Yg tengah diselimuti keharuman yg sulit kau mengerti..
Lihatlah dengan lebih jelas.. ia tengah tersenyum menyapamu sambil menikmati bayangan awan yg melayang seperti serombongan pengembara yang mungkin saja siap berubah menjadi mendung saat senja untuk menyamarkan kesedihanmu

Kamis, 26 Februari 2015

Gerimis di musim gugur


Ini adalah alasan mengapa terkadang seseorang tersenyum saat melihat butir butir air yang jatuh menyentuh tanah dengan begitu lembut...

Gerimis di Musim Gugur 

Hijau....
Ia tersenyum..
Di tengah rintik yang menyusul menitik..
Hatinya teriris, menatap sang gadis gerimis..
Gerimis yang mengetuk,  tik.. tik...tik.. ataukah...
Air mata yang jatuh?, tik... tik... tik..

Kuning...
Hijau tlah menjadi kuning
Yang tersimpan jauh dalam relung hatinya..
Gadis gerimis, membalas senyumnya..
"Kau suka musim gugur?".tanya pemuda itu
"Ya,  aku selalu merindukan musim gugur " jawabnya.

Merah....
Kuning menjelma menjadi merah
Merah yang jatuh hati
Gerimis lembut yang tersenyum dalam diam..
Gerimis di musim gugur nampak serasi, 
Berpadu dalam untaian memori
"Kenapa kau merindukannya?"tanya pemuda musim gugur..
"Karena ku tahu,  musim gugur akan segera berlalu"
 jawab gadis gerimis..

Coklat...
Merah telah berubah coklat, 
Daun coklat melayang ditiup angin..
Seolah tengah mengucap salam perpisahan pada gerimis..
Perlahan, luruh dan menghilang dalam diam..
Sedangkan gerimis masih menitik.. 
Tik.. tik... tik... itu air mata gadis gerimis.
"Kenapa kau pergi" tanya gadis gerimis..
"Karena aku musim gugur,
Aku ditadirkan untuk berjumpa denganmu, 
untuk mewarnai hatimu, namun tak dapat bersamamu"
Jawab pemuda musim gugur..

Putih....Salju putih...
Tiada lgi hijau, kuning, merah ataupun coklat..
Yang ada hanya putih..
Putih yang membekukan hati..
Tanpa kau ketahui, 
Gerimis masih menanti..
Tik...tik...tik... ia menitik
Untuk menyamatkan air mata.
Perlahan gerimis turun..
Mungkin... ia ada untuk menyeka air mata seseorang..
Agar musim gugur tak melihat banyak kesedihan...
"Jadi, tersenyumlah.."



Warna warna dedaunan musim gugur diatas mrlambangkan waktu yang terus melaju.. tokoh utamanya adalam gerimis dan musim gugur yang bertemu lalu berpisah... ini adalah alasan kecil kenapa kita perlu tersenyum saat butir butir gerimis jatuh... :-) :-)

By:  nurul hidayy...  
Ditulis larut malam ketika gerimis tak jadi turun...  


Sabtu, 21 Februari 2015

Membuang kenangan dari celah celah kepiluan


Suatu ketika seorang gadis berjalan di tengah dinginnya lorong lorong kepiluan. Seketika itu ia teringat dengan seseorang di masa lalunya..
seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepingan hatinya, seseorang yang pernah berjanji delapan tahun silam "kelak kita akan bertemu lagi di musim semi yang indah ketika bunga sakura bermekaran" kata pemuda itu.



Selama itu gadis itu terus menunggu dan mencoba bersabar dengan melewati beberapa kali musim yang nampak tertawa menyaksikan kekecewaannya. Dari musim semi tahun pertama hingga musim semi hari ini, ia tetap menunggu,  tak peduli dengan hatinya yang semakin hari semakin dingin dan rapuh.

Namun, ia tetap tak datang.. kini musim gugur sudah hampir tiba..  dan musim semi hampir berlalu.. bunga bunga indah musim semi hampir layu, jika musim semi tahun ini berlalu,  itu berarti gadis itu akan memasuki  tahun kesembilan penantiannya.

Tak terasa ribuan hari gadis itu telah menunggu,  dan tanggal tanggal tetap bergulir konstan dan tak tahu diri, tak peduli dengannya yang masih setia duduk di bawah ribuan dedaunan musim gugur yang jatuh menerpa kepalanya. Pohon pohon sudah kering dahannya, ranting ranting nampak brgitu gelap dan tajam. Sesekali salju membekukan rerumputan dan ranting di sekitarnya. Mungkin sebentar lagi gadis itu juga akan ikut membeku bersama kerinduannya. 

Dadis itupun menyerah...  ia menyerah dengan hatinya yang telah membeku dan mengkristal bersama kekecewaan.  Iapun meninggalkan sepucuk surat yang diletakkannya begitu saja di tengah tengah bangku panjang yang dikelilingi rating ranting yang hampir beku..


"Cinta di musim gugur,
Ketika cinta menyapa di musim semi..
Dua hati bermekaran..
Ketika mencintai dan menyukainya..
Musim dingin mencair digantikan musim semi..
Tapi sepertinya itu hanya ilusi dan dibuat oleh kisah fiksi dengan tokoh pangeran fiksi..
Aku menunggumu tapi waktu waktu bahkan tak pernah mengizinkanmu hadir.. 
Lalu cinta ini seperti musim gugur.. 
Daun kering berguguran..
Ketika dedaunan dan kepingan hatiku telah berserakan..
Yang tertinggal hanya ranting tak berdaun dan ribuan kekecewaan. 
Menunggu salju yang dingin tanpa tujuan yang pasti.. 
Dan kubiarkan rasa sakit ini menjalani musim dinginnya..
Tapi ketika kelak musim dingin berubah menjadi musim semi, mungkin kau tak akan lagi menemukanku disini..
Mungkin saat itu, aku telah membuang semua kenangan dan kekecewaan. 


Lalu aku melihat langit dengan warna biru yang cerah, mungkin saat itu aku akan merasakan hangat matahari di musim semi, aku akan melihat bunga bunga indah bermekaran.. dan saat itu mungkin aku sudah melupakanmu.. 
Entahlah..... mungkin dengan berubahnya puluhan kali musim,  pun kau lupa sususnan huruf yang merangkai namaku, lupa dengan semua kisah dan janji delapan tahun lalu untuk datang tetsenyum menemuiku ...

Aku pun berjalan menjauh diikuti musim yang siap siap berganti warna, mentari yang sebentar lagi bersembunyi.. aku menjauh dengan langkah yang masih saja berusaha membuang namamu dari celah celah hatiku.. seperti bunga yang terselip diantara rerumputan kering.

Maafkan aku yang menyerah untuk tetap menunggumu di tempat ini "


Kamis, 19 Februari 2015

kepada anda sang angin kenangan~



Kepada anda sang angin kenangan..
Angin tengah berhembus meniupkan sebuah kisah dan merangkai melodi melodi klasik dalam dedaunan yang perlahan menarikan tarian yang terbungkus dalam nada nada pilu.

Kepada anda sang angin kenangan, .ketika kucoba bertanya kepada dedaunan dan bunga matahari yang pernah tertiup menjadi saksi akan kehadiran anda, mereka tetap bisu dan tak mau menjawab siapakah anda.

Lalu kucoba bertanya kepada ilalang kering yang ketika anda lalui seperti hendak melambaikan tangan dan menyapa anda. Namun, mereka tetap hanya diam ketika saya menanyakan tentang siapa anda.. dan ketika ilalang itu kembali bergerak merekapun menjawab bahwa angin yang berbeda lah yang tengah mereka sapa..
Lalu kutanya kepada hatiku yang coba menerka nerka tentag siapa anda.,namun hatiku tetap tak mampu mampu menjawabnya..

Lalu harus kutanya kepada siapa... ?
Tolong.... bisakah anda katakan siapa anda?
Apakah anda mengingat saya?
Saya mungkin adalah satu dari ribuan bunga matahari yang pernah anda lewati, ah... mungkin anda sudah lupa...
Seperti ribuan bunga matahari yang lain, saya juga tersenyum saat anda melewati saya.bahkan anda sempat menceritakan banyak hal tentang impian impian anda. Anda lewat di depan saya dengan memberikan kesejukan yang tidak dapat saya definisikan... namun setelah itu yang tersisa dari anda adalah kenangan layaknya embun pagi yang seharusnya menghilang saat sang surya mulai naik ke singgasananya. Namun, di tangan saya kenangan itu justru tinggal menetap laksana embun yang beku dan terjebak di tengah hamparan kristal es.
Kenangan itu tak dapat saya cairkan ataupun sublimkan  begitu saja.

Suatu waktu anda berkata kepada saya bahwa angin tidak dapat diam dan tinggal di tempat yang sama.. saya menangkap maksud yang tersirat dalam ucapan anda, bahwa anda tidak dapat terus berada di sisi saya..
Dan andapun pergi tanpa pernah menoleh sedikitpun.. ya.... anda seperti hilang termakan oleh kabut yang berusaha menyembunyikan anda .
Seiring dengan bergantinya puluhan kali musim semi, saya terkadang masih duduk diam dan bertanya tanya "apakah mungkin anda akan kembali?  " dan dengan berakhirnya puluhan kali musim semi,saya mulai menemukan jawaban tentang sang angin kenangan..
Bahwa " angin tak dapat kembali ke tempat yang sama".....
sekali lagi saya bertanya?  Siapa anda... kenapa saya harus terluka saat anda pergi dan tak pernah kembali lagi?
Saya hanya ingin mengucapakan selamat tinggal setidaknya saya ingin berterimakasih karena anda telah membuat saya tersenyum..



Minggu, 08 Februari 2015

Ribuan besok

Aku masih terdiam memandang ribuan rintik hujan yang terjatuh mengetuk tanah..
Ratusan ribu detik telah berlalu , namun waktu yang kulihat nampak seperti statis. Mungkin ribuan rintik yang jatuh telah menenggelamkan jarum jarum jam. Lalu kupikir waktu seperti diam saja ketika aku terdiam menunggu sesuatu di bawah rintik rintik bening .
"Bukankah seseorang pernah berkata tentang hukum relativitas?"tanyaku pada bayang bayangmu ..
"Kau tahu? Bagiku waktu itu sungguh sungguh sesuatu yang relatif. relatif terlalu lama untuk menunggu sosokmu.
Dan akupun mulai jenuh mencari bayang bayangmu yang mungkin tengah bersembunyi di tengah tengah rintik rintik yang nampak begitu melankolis.


Dan hari ini masih dengan perasaan yang sama, aku berharap kau datang hari ini.. Namun, masih dengan hasil yang sama.. Yang kurasakan adalah harapan yang tenggelam terbawa pergi oleh senja..
Ah... Mungkin bukan hari ini..
Mungkin saja besok, atau bisa juga besoknya lagi..
Atau mungkin setelah jutaan kata yang bernama "besok" , kau baru akan tersenyum di depanku dan berkata "aku disini" ..
Ya... Tentu masih dengan harapan yang sama seperti ribuan kata besok yang kuharapkan kemarin ..
Ah sudahlah.. Mungkin itu hanyalah sebuah jawaban dari harapan yang belum tiba hari ini. :)
Dan akupun mulai memutuskan untuk tidak lagi menunggumu di tengah ribuan rintik rintik hujan. Cukuplah aku mendoakanmu agar kau selalu baik baik saja.
Bukan lagi di bawah rintik hujan, mungkin sesekali aku akan mengingatmu lalu mendoakanmu di tengah lembar demi lembar kertas usang sebuah buku yang tengah kupahami..
Atau bisa jadi sesekali aku akan mengingatmu lalu mendoakanmu di sela sela rutinitas harianku di tengah ribuan manusia..
Tenanglah..... Aku akan tetap mengingatmu meski kadang terasa berat harus menggenggam harapan dengan kepingan hatiku yang tersisa.. :)