Minggu, 27 Maret 2016

azalea dan musim semi


---pemuda musim semi---

''Ada yang hilang....''
Kening pemuda itu berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu
yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang
hilang itu penting ataukah tidak.
Ia menarik napas dalam-dalam. Yah... mungkin bukan sesuatu yang penting.
Ia berputar membelakangi jendela dan memandang ke sekeliling ruangan. Aula
besar itu mulai ramai. Orang-orang terlihat gembira, saling tersenyum, tertawa, dan
mengobrol. 
rasanya begitu sesak,ia pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu dan mencari udara segar diluar. ia mrasa sangat sesak. entah sesak karena banyaknya orang orang asing yang lalu lalang di sekitarnya, atau sesak karena ia tak mengetahui apa yang hilang dari sebagian hatinya. 

........ Aneh sekali. memori otaknya bahkan tak mengenal siapa yang tengah ia rindukan. namun,  ia yakin ia tidak mengenal orang itu. 
Tetapi kenapa sepertinya hatinya berkata sebaliknya?
Kenapa hatinya seakan berkata padanya bahwa ia merindukan orang itu?

---wanita, pengagum bunga azalea---

musim semi yang indah, musim semi sudah sampai disini, bunga azalea juga sudah mulai mekar dengan menawan. ladang ladang beku berubah menjadi lautan kelopak warna pelangi. apa kau masih ingat? dulu kau sering duduk ditaman ini bersamaku, menikmati angin musim semi serta bunga azalea yang mekar bersamaan pada musim itu. mungkin ini sudah kali kelima aku duduk disini, melihat bunga azalea yang mekar menyapa musim semi.  saat ini hujan mualai mereda, tak sesering dan sederas musim itu, saat kau masih duduk bersamaku disini. apa kau ingat? percakapan sederhana kkta tentang bunga azalea?

''kenapa kau begitu menyukai bunga azalea'' tanyaku 

''hmm,,,, kau tahu? bagiku Azalea sebenarnya bukanlah termasuk bunga yang mewah, karenanya Azalea memiliki makna kesederhanaan dalam sifatnya. Azalea memang bukan yang terindah, begitu nampak biasa, namun bagiku, ia memberikan kesan indah dan memancarkan aura kesejukan. dan menurutku, Itulah sebuah kekuatan yang tersimpan di balik keindahan yang sederhana.'' jawabmu 

kini, sudah berapa tahun semenjak kau mengatakan itu, entah aku lupa... hmmm... tunggu maksudku aku sengaja melupakannya. sekarang taman bunga ini menjadi jauh lebih indah saat musim semi tiba. bunga azalea semakin banyak yang mekar disini. 
dan... lucunya, hmm.... entah lucu atau ironis, di saat seperti ini aku merindukanmu,  sangat.... 
dan tak tahu harus bagaimana, ingin kembali mendengar alasanmu yang selalu terdengar seperti hembusan angin di musim semi. ya tentu saja ... alasanmu mengapa menyukai bunga azalea . 

dan lama-lama aku bosan, duduk menunggumu di tengah tengah musim semi. kurasa satu persatu kelopak azalea mulai gaduh bertanya siapa yang tengah kutunggu. entah bagaimana aku harus menjawab mereka satu persatu. 

mungkin jika rindu bertanggal kadaluarsa, maka tanggal yang mungkin tertera pada bungkus rindu itu adalah esok. bukankah tak baik jika aku masih menyimpannya ? mungkin lama lama akan menjamur dan membusuk. jadi kutinggalkan rindu itu dibangku tengah taman tempat biasa kita duduk melihat azalea. kuharap seseorang mau memungutnya.

----pemuda musim semi---


Tiba-tiba pemuda itu  tersadar dari lamunannya dan memandang jalanan di depannya. 
Di mana dia sekarang? Ia sudah mengemudi tanpa sadar ke mana arah tujuannya. ia memandang ke taman yang luas di seberang jalan.

''Kenapa aku bisa sampai di sini?'' tanyanya dengan heran kepada dirinya sendiri. 
Ia tidak ingat pernah datang ke sini. Tapi karena ia sudah ada di sini, ia pikir tidak ada salahnya masuk dan berjalan jalan menikmati bunga bunga yang bermekaran pada malam hari di musim semi. ia melihat sekeliling. 

''Benar, sama sekali tidak asing.'' gumamnya. warna warni bunga musim semi yang bermekaran,suasana melankolis, aroma bunga yang ada disekitarnya serta bangku panjang yang didepannya terdapat kumpulan bunga azalea cantik juga nampak membuatnya seolah tak asing. rasanya selalu seperti ini setiap musim semi, pemuda itu selalu merasa sedih saat melihat bunga azalea yang mekar menemani musim semi.rasanya ia seperti takut untuk memetik dan menghancurkan kelopak kelopak merah mudanya. mungkin ada kenangan disana atau mungkin ada kisah yang pernah dia lalui disana. 

entahlah..... ia lupa, kepalanya semakin pusing saat mencoba mengingat-ingatnya. kecelakaan berapa tahun silam telah berhasil merubahnya menjadi orang asing. bahkan di negerinya sendiri


ditulis oleh nurul hidayy, saat sedang jenuh mengerjakan tugas. 






Rabu, 23 Maret 2016

''kali ini kau salah, tempat ini masih sama indahnya''


----jepang, musim gugur tahun ini--
--gadis gingko--

akupun kembali berada di suatu tempat yang dipenuhi orang asing yang berjalan mengabaikan dedaunan gingko yang berserakan di jalan kota ini. seolah hanya aku dan kau saja yang dapat menerjemahkan kenangan kenangan yang terselip dibalik dedaunan kuning yang berjatuhan bersama musim gugur.   Angin musim gugur berhembus menusuk pori-pori kulitku, Senja memerah berkolabolasi dengan oranye kekuning-kuningan tengelam diantara celah celah ranting gingko yang semakin renta. ranting ranting coklat tua nan kokoh yang menjadi renta karena waktu. tetesan air hujan, sekumpulan angin musim gugur dan teriknya matahari di musim panas yang bergantian menyentuhnya membuatnya semakin renta. dulu aku sering disini dengannya, berjalan bersama menikmati dedaunan  berbentuk kipas warna kuning cerah yang berguguran sambil sedikit berdebat tentang hal hal yang bagiku masih sangat sulit untuk kulupakan. 
Kini beberapa tahun telah berlalu, ribuan helai daun gingko telah gugur, dan bebarapa kali musim telah datang silih berganti, kali ini  senja begitu tenang, sepertinya matahari juga perlahan terjun tengelam ditenangnya angin lembut musim gugur. beberapa tahun lalu kau pernah berkata bahwa tempat ini mungkin akan banyak berubah saat kita kembali mengunjunginya. kali ini kau salah, tempat ini masih menjadi jalanan yang sama indahnya seperti beberapa tahun yang lalu, persis seperti terakhir kali kita disini. hanya saja, yang berubah adalah sebagian sisi space kecil di sampingku yang biasa terisi oleh sosokmu yang berjalan dengan tenang sambil tersenyum menggenggam tanganku. kini nampak kosong dan hanya terisi oleh berkas berkas sisa matahari senja yang perlahan menghilang juga. 




---Jepang, musim sesmi beberapa tahun silam ---
--gadis gingko--

bau bau musim semi yang perlahan menghilang mulai terasa. namun, aku tak pernah lelah dan bosan duduk di bawah pohon ini, sambil menikmati hujan kelopak dan helai bunga cherry putih dengan bercak bercak warna merah muda. seperti hari hari kemarin, hari ini aku melihatnya lagi dari jarak yang mungkin takkan terlihat olehnya. sudah beberapa kali aku melihatnya disana. pemuda yang duduk sambil memandangi kanvas yang berisi cat warna warni yang berpadu membentuk sebuah gambar cantik. namun, entah ini sudah kali keberapa saat aku melihatnya dari tempat ini, namun belum sekalipun aku melihat wajahnya, yang kulihat hanyalah mantel coklatnya dan syal merahnya yang berwarna senada. entahlah apapun itu, yang kutahu musim semi hampir menguap namun ia tetap saja melakukan hal yang sama seperti beberapa waktu yang lalu. datang untuk melukis beberapa objek objek indah yang ada di sekitar tempat itu dan kemudian pergi meninggalkan kertas kanvasnya yang nampaknya sengaja ia tinggalkan. dan seperti biasa, saat dia pergi menjauh beberapa menit dari tempat itu, aku datang memungut kanvas yang ia buang. nampak seperti lukisan yang belum usai dan sengaja dibuang. 


entah, aku tidak pernah mengerti bagian mana dari gambar itu yang membuatku jatuh hati.. bagiku gambar tersebut memiliki sebuah alur ceritanya tersendiri. dan entah seolah tanganku selalu ingin menuliskan sesuatu di kanvas itu seperti saat saat aku melihat lukisannya kemarin. lalu mengembalikan kanvas tersebut pada tempat pertama ia terjatuh dan dibuang oleh pemiliknya. berharap pemuda itu mau memungut kembali kanvasnya dan melanjutkan lukisannya. 

dan hari itu, aku jatuh hati dengan lukisan itu 


----jepang, musim semi ditahun yang sama--
--pemuda pelukis--

''sekarang masih musim semi, kenapa kau melukis bunga plum?''
''hmmm.... bunga plum yang mekar disaat penghujung musim dingin yang dipenuhi salju putih yang hampir mencair. bukankah itu berbeda dengan sakura yang setia mekar saat musim semi?  bunga ini mekar sebelum sakura. Ia memang tak sepopuler dan tak seindah sakura. Namun , bagi salju yang sempat melihat bunga plum. Ia pasti akan mengatakan bahwa bunga plum sangatlah Indah .
“pertemuan untuk perpisahan” itulah takdir pertemuan antara bunga plum dan salju .''

itulah tulisan yang tertulis dibalik kertas kanvas lukisan yang kubuang beberapa waktu yang lalu. hujan sepertinya telah sedikit egois membasahi kanvas itu, hingga beberapa catnya nampak pudar dan warnanya terlihat berkelana ke sisi yang lainnya. entah siapa yang telah berbaik hati menuliskan kata kata ini dibaliknya. kemarin aku seolah tak peduli dengan alasan untuk tetap duduk disini, ditepi tempat ini sambil melukis dan membayangkan sesuatu yang bagiku benar benar buruk dan kacau. itu adalah saat dimana aku benar benar merasa kehilangan seluruh bakat dan intuisiku dalam melukis. rasanya semua lukisanku makin buruk saja belakangan ini, ditambah dengan nilai E yang kudapatkan pada pertengahan semester ini. 

namun tiba tiba aku menemukan kata kata indah yang telah seseorang tulis dibalik kanvas yang telah kubuang. rasanya seperti menemukan kembali kepingan kepingan terakhir  puzzle yang telah lama kususun dengan hati hati. bukan hanya hari ini, beberapa waktu yang lalu aku juga telah menemukan tiga kali tulisan yang ia tulis dibalik kanvas yang kubuang di tempat yang sama. 

tulisan pertama 
''kenapa pergi ke tempat ini untuk melukis bunga matahari ? bukankah seharusnya pergi ke suatu tempat yang terdapat bunga matahari yang tengah dengan sabar memandangi matahari? kau tahu ?Bunga matahari selalu menghadap  ke arah matahari, begitu katanya, tapi.. jangan-jangan mungkin.. justru matahari  yang ingin agar bunga matahari menoleh ke arahnya, karenanya ia begitu tinggi menguasai langit di musim panas
^^ lukisannya sangat indah, jangan membuangnya disini, ini terlalu indah untuk dibuang''

tulisan kedua 

''banyak hal indah yang kau lukis, kali ini lukisanmu tentang seseorang yang tengah jenuh membungkus satu persatu memori ditengah senja yang dipenuhi ranting ranting pepohonan gingko kering yang nampak begitu melankolis, mungkin seperti itu . 
“berapa juta kisah yang tak kuketahui tentangmu ?”
“berapa juta kenangan yang tersembunyi di balik sosokmu ?”
“Bisakah kau menjelaskannya padaku? Kepada orang asing yang jatuh hati pada lukisanmu”

sekarang aku jadi lebih sering duduk disini, melukis sambil diam diam mengamati dan mencari sosoknya yang bersembunyi entah di bagian mana dari kota ini. aku yang mulai jatuh hati pada kata kata yang ia tulis untukku.  berharap tanpa sengaja kami segera bertemu dan saling menanyakan banyak hal. namun, semakin lama aku semakin kehabisan alasan untuk tetap diam duduk menunggunya disini, kelopak cherry sudah hampir meranggas. dan angin musim semi perlahan mulai menyublim, seolah mengejekku yang tak tahu tengah menunggu siapa. ya... apakah dia tahu? aku menunggunya ! seseorang yang menghilang bersama berlalunya musim semi.

--- jepang, musim gugur ditahun yang sama--
--gadis gingko--

lama aku tak pernah melihatnya lagi duduk melukis ditempat yang sama. bagaimana kabarnya sekarang ? apakah dia sudah berhenti melukis ataukah bagaimana? langit masih cerah disini. daun gingko masih dengan indah setia berguguran menemani musim gugur yang nampak sendu. sesendu hati seseorang yang menunggu seseorang yang bahkan belum pernah ia kenal. ya.... aku merindukan lukisannya, merindukan menulis dibalik lukisan indahnya. 
namun tiba-tiba pandanganku beralih ke kerumunan pejalan kaki yang barada di ujung gingko avenue . akupun berjalan kearahnya, 
''nampak seseorang mengenakan jas rapi dan berdiri diantara banyak lukisannya. nampaknya ia sedang mengadakan pameran lukisan di tempat itu. setelah beberapa langkah aku mendekat , aku sangat terkejut saat melihat tiga diantara barisan lukisannnya adalah beberapa lukisan yang pernah kulihat tergeletak diantara kelopak cherry warna putih bercorak merah muda. dan dibawah lukisan itu tertulis sebuah kata kata yang rasanya benar benar mebuat air mataku jatuh. 

'' seperti katamu, aku sudah melanjutkan lukisanku dengan baik dan mendapatkan nilai A untuk lukisanku di semester ini, terimakasih untuk kata-kata indahmu yang telah membuatku jatuh hati. kanvas ini lusuh karena sering kubawa kemana mana, berharap takdir mengizinkanku bertemu denganmu tanpa sengaja di sebuah tepi jalan. berharap dapat mengetahui siapa namamu, dan apabila kita ditakdirkan bertemu di gingko avenue ini, aku akan memanggilmu gadis gingko''

pemuda itu tanpa sengaja melihat air mataku yang tanpa kusadari menetes dengan pelan. ia lalu menghampiriku dan berdiri tepat dihadapanku. perlahan dia mengambil sebuah lukisan yang sangat indah dan menghadapkan lukisan itu kepadaku. 
'' tolong, tuliskan sesuatu dibalik lukisan ini, nona gingko''
akupun segera meraih pena yang ia berikan untukku dan menuliskan sesuatu dibalik kanvas itu. 
''terimakasih telah kembali melukis dengan baik, dan terimakasih telah bersedia mencariku, tolong, teruslah melukis dengan indah karena aku jatuh hati pada semua lukisan lukisanmu'' tulisku pada kanvas itu.

--pemuda pelukis, di tempat yang sama, gingko avenue-- 

dan aku benar benar bertemu dengannya, dengan seseorang yang selama ini telah kucari dan kurindukan tanpa tahu bagaimana wajahnya. dia.... sangat cantik, secantik kata kata yang pernah dia tulis dibalik kanvasku. senyumnya benar benar meluluhkan hatiku yang dingin untuk kembali menjadi hangat. Bunga matahari selalu menghadap  ke arah matahari, begitu katanya pada musim semi yang lalu, tapi.. mungkin... justru matahari  yang ingin agar bunga matahari menoleh ke arahnya, karenanya ia begitu berambisi tinggi menguasai langit di musim panas. mungkin benar, Matahari perlu diajarkan tentang kesetiaan dan kelembutan...Setelahnya mungkin ia akan bersahabat dengan angin musim gugur dan bertemu cinta yang tepat. 



. . . .
dan sejak pertemuan dibawah pohon gingko itu, kami menjadi akrab satu sama lain. kami merasa memiliki kecocokan dalam banyak hal. namun terkadang kau perlu tahu, bahwa waktu dan musim selalu punya rahasia untuk menciptakan bab bab baru dalam kisah seseorang. entah itu pertemuan ataupun  perpisahan. 
dan tepat dipenghujung musim gugur pada tahun kedua setelah kita bertemu, dibawah pohon gingko yang semakin banyak menggugurkan dedaunan berbentuk kipas kekuningan di tengah dinginnya hembusan angin tepatnya dipenghujung musim , kamipun berpisah untuk melanjutkan studi ke negara impian kami masing-masing. sambil memendam harapan yang begitu besar untuk kembali bertemu di tempat yang sama indahnya dengan kata kata yang pernah ia tuliskan untukku.

''semoga langit mempunyai jalan cerita yang indah untuk mempertemukan kita lagi, aku akan sangat merindukanmu.. saat kita bertemu mungkin tempat ini akan berubah, entah jadi lebih inah ataupun jadi lebih ramai. namun, kuharap hatimu masih tetap sama seperti saat kita masih bersama''

.................. 

ditulis oleh nurul hidayy ketika matahari musim panas dengan terik menyinari tempatnya.










Minggu, 20 Maret 2016

dikutip dari seseorang yang hatinya patah


19 Oktober 2015

'' jangan katakan kita bertemu untuk menyusun jadwal perpisahan. . biarkan saja berjalan perlahan seperti angin yang bertiup , bertiup memainkan tangga nada yang menghasilkan melodi melodi klasik pada celah celah bunga daisy warna cerah yang pernah kau temui di puncak pegunungan. daisy yang menyala di sela sela padang rumput warna hijau''

5 Desember 2015

''siang ini warna langit bagian barat nampak begitu melankolis dengan corak abu-abu pekat. 
apakah kau juga tengah melihatnya ? ya..... dan tak terasa  juga musim telah berganti, dan kalaupun memang benar ini pertemuan terakhir yang musim buat untukku dan untukmu... kuharap semoga kita tetap bahagia pada persimpangan jalan yang akan kita lalui masing masing''


7 Februari 2015

'' musim panas sudah terlewati, musim panas yang kupikir paling panas dari tahun tahun sebelumnya. sepanas hati seseorang yang merelakan dan meninggalkan perasaanya di pucuk dedaunan kering yang tersengat matahari. .

tapi sudahlah... itu sudah lewat, sekarang saatnya tersenyum dengan bahagia secerah warna dedaunan yang kembali menghijau setelah disapa oleh hujan. 
dan percaya saja, mungkin februari yang basah tengah mempersiapkan album kenangan yang indah untuk seseorang yang hatinya patah di musim kemarau yang lalu''





ditulis oleh nurul hidayy, dikutip dari seorang gadis yang hatinya patah di musim kemarau yang lalu.
''semoga lekas sembuh''


Sabtu, 19 Maret 2016

''seperti mimpi saja'' katanya


suatu senja ditepi kota nan nampak melankolis, ditemani rintik hujan nan sendu di pertengahan musim gugur. ditemani hembusan angin yang nampak egois meniup dan mengehempaskan dedaunan warna oranye kemerahaan di atas rerumputan nan lembab.


----pemuda musim gugur, Berlin---

rasanya seperti sudah  belasan kali musim gugur untukkku duduk sambil menunggunya disini. ya, aku melihatnya berjalan melewati tengah kota dengan senyum yang nampak tak asing bagiku, senyum yang membawaku teringat pada beberapa tahun yang lalu, entahlah... aku sudah mulai lupa, yang jelas aku yakin dia pernah lewat dalam kisah hidupku pada masa yang lalu. 


akhirnya dia datang dengan seyuman yang selalu aku rindukan, kau tahu terkadang waktu berlalu dengan kecepatan yang tak terduga, rasanya baru kemarin aku melihatnya menangis sambil berjalan tanpa melihatku di bandara saat kita terakhir bertemu beberapa tahun silam. rasanya juga baru kemarin aku melihatnya tersenyum saat ia masih berusia 19 tahun. entah sejak kapan aku bisa melihatnya dari jarak yang cukup dekat, melihat senyum simpulnya yang merekah di tengah tengah musim semi bulan april dan beberapa bunga bunga indah yang sering kulihat di pinggiran kota Berlin. dan... kuharap tetap seperti ini, seperti saat senja aku menunggunya di taman tepi kota sambil menantikan senyumnya yang hangat di tengah hujan dedaunan warna oranye kemerahan. 


-----gadis daisy, suatu kota di Indonesia----
----beberapa tahun silam---

jika kau bertanya seperti apa rasanya, rasanya seperti bau tanah yang basah karena hujan. seperti tanda untuk pertemuan pertemuan yang diakhiri dengan penantian maupun perpisahan

rasanya ingin sekali aku berteriak kepada pemuda yang berjalan semakin ke utara untuk berhenti dan sejenak melihat ke arahku untuk melambaikan tangan dan berkata ''tunggulah aku, aku akan sangat merindukanmu'' namun ironisnya aku hanya bisa melihatnya tetap dari arah selatan, ya... selatan, tepatnya di belakangnya. namun, apadaya hati yang begitu penakut seolah olah berpura pura menjadi tokoh protagonis dalam sebuah drama dan dongeng dongen penantian dengan lapang mengatakan '' ya.... kau.... lurus saja ke utara, tak perlu menoleh ke arahku, tenanglah.. aku tetap akan baik-baik saja meskipun menjadi selatan untukmu''.

rasanya seperti baru kemarin melihatnya, muncul dalam mimpiku sambil tersenyum lalu perlahan hadir dalam dunia yang bagiku bukan sebuah dunia fiksi yang aku kenali, bagiku dia seperti lingkaran lingkaran penting yang sengaja dipilihkan oleh kalender agar membawa setiap momen indah yang akan selalu kukenang. kuharap begitu... dan akan seterusnya begitu .


                                                 -----gadis daisy, Berlin Jerman----

seperti senja senja sebelumnya, dia dengan setia menungguku sambil duduk menikmati indahnya musim gugur di pinggiran kota. membawakan satu ikat daisy favoritku sambil tersenyum menanyakan kabarku. ''seperti mimpi saja, entahlah ini mimpi atau bukan, yang kutahu, hatiku 
masih tetap sama seperti saat pertama kali aku melihat senyummu di dalam mimpiku beberapa tahun silam. yang berbeda hanyalah garis tulang di wajahmu yang kini nampak terlihat lebih tegas dan kokoh, seperti ranting pepohonan musim gugur yang menjadi semakin kuat. dan tiap garis yang kuingat dalam pahatan wajahmu, membuatku semakin sulit untuk tidak merindukanmu''


ditulis oleh nurul hidayy , fiksi yang ditulis saat sedang susah untuk tidur

Kamis, 03 Maret 2016

''ketika rindu di seberang kota tak dapat lagi kau dengar''

''ketika rindu di seberang kota tak dapat lagi kau dengar''

ketika satu persatu ambisi dan impianmu terpenuhi seiring dengan melajunya waktu, maka mungkin saja, hal-hal yang kau dapat saat ini merupakan jawaban dari bisikan lirih  doa orang-orang yang mencintaimu dikala tengah malam, orang-orang yang tidak pernah memintamu untuk mendoakannya kembali.

ya,tentu, masing masing individu memiliki alasan untuk terlalu sibuk bergulat dengan suatu aktivitas ambisius dengan tujuan keterjaminan finansial dan kecukupan materi di masa mendatang. tidak, mungkin tidak ada siapapun yang berhak melarang hal tersebut. karena seiring melajunya waktu, banyak hal yang harus diraih dan dimiliki seorang individu dalam hidupnya.   


sementara itu di seberang tempat yang lain, dikala kau terbangun yang terlintas dan memenuhi kepalamu sepanjang waktu mungkin hanyalah kumpulan-kumpulan persoalan duniawi nan rumit yang saling berkejaran dan berlomba lomba menghindari suatu batas garis bernama ''deadline". 
kemudian dilanjutkan dengan rutinitas harianmu yang saling berdesak desakan berebut dengan waktu yang begitu pendek untuk menguasai sepenuhnya seisi rongga dalam sel otakmu.
dan mungkin akan begitu seterusnya, seiring dengan ambisi yang kian meninggi dan ego yang kian tak bertepi, perlahan mungkin dengan menyempitnya waktu dan melebarnya jarak akan membuatmu melupakan bebrapa orang yang terus mendoakanmu dari seberang sana. 

engkau terus saja berlari memeluk erat apa yang dimiliki, atau berlari mengejar apa yang dimimpi. Namun kau lupa akan satu hal, bahwa waktu pun ikut berputar, mengejarmu yang berlari penuh keserakahan.
Waktu akan terus berputar, sejauh apapun kau menghindar. Ia akan mengejar, bahkan merenggut hal paling berharga yang kau miliki. entah itu berbentuk hal hal indah yang kelak hanya akan menjadi kenangan, ataukah peristiwa terhebat dalam hidupmu yang bahkan hanya akan dimuat dalam koran usang puluhan tahun silam. 
sesekali di tengah tengah kesibukan yang selalu kau tuan-kan, ingatlah tentang kedua orang yang telah dengan sangat tulus mendoakan keberhasilanmu dari seberang tempat yang bahkan tak akan kau dengar bagaimana bait bait indah dalam setiap permohonan doanya berbunyi. 
sesekali atau bahkan sempatkanlah melihat bagaimana garis garis kerut diwajahnya, lingkaran hitam di bawah mata nya serta warna keputihan di sela sela rambutnya yang hitam mulai tampak nyata. atau jika kau terlalu sibuk untuk melakukan hal tersebut, setidaknya kabarkan bahwa kau baik baik saja di tempatmu sekarang. setidaknya hal tersebut bisa mengurangi kecemasan mereka terhadapmu yang tak pernah lagi mengirimkan kabar. 
mungkin beberapa tahun lagi kau akan menyelesaikan studimu, dan seorang aktivis ataupun individu kutu buku yang terlampau sibuk berkejaran dengan waktu akan menjelma menjadi seseorang yang mungkin akan merintis karier cemerlangnya ke tempat lain yang lebih jauh.  tentu, lebih jauh dari orang yang semasa waktu sibukmu telah jarang kau sapa atau bahkan kau tanyakan kabarnya. 
dan, cepat atau lambat waktu akan merenggut beberapahal hal berharga yang mungkin pernah kau acuhkan begitu saja. bahkan kau ketakutan akan kehabisan usia, namun waktu tak akan pernah berhenti, ia akan terus berputar menghabiskan sisa usia yang tertinggal. entah usia siapapun itu, mungkin seseorang yang kelak akan sangat kau rindukan senyumnya dan sambutan hangatnya saat kau pulang ke kota lamamu.  
Dan pada akhirnya, sesuatu yang telah kau kejar dan pertahankan dengan erat akan hilang sebelum kau benar-benar merasakannya, atau mungkin terbawa waktu untuk kemudian menjadikannya sebagai pelajaran bagi insan yang lain. apapun itu, semoga kau tidak pernah terlambat. pulanglah, sesekali tengoklah beliau yang rindunya mungkin tak terdengar olehmu, tanyakan bagaimana kabarnya, izinkan beliau menjadi barisan orang tua yang bahagia karena selalu dapat melihat senyum putra putrinya yang berada di dekatnya. bukan setiap hari, namun sesering yang kau bisa untuk membuatnya tersenyum bahagia saat melihatmu menjadi insan yang berhasil dan tetap mengingat tempat untuk kau datangi dalam setiap waktu luangmu. 

"ditulis untuk beberapa orang yang tak mampu lagi mendengar suara rindu di seberang kota"

 by nurul hidayy