Ini adalah alasan mengapa terkadang seseorang tersenyum saat melihat butir butir air yang jatuh menyentuh tanah dengan begitu lembut...
Kamis, 26 Februari 2015
Gerimis di musim gugur
Ini adalah alasan mengapa terkadang seseorang tersenyum saat melihat butir butir air yang jatuh menyentuh tanah dengan begitu lembut...
Sabtu, 21 Februari 2015
Membuang kenangan dari celah celah kepiluan
Suatu ketika seorang gadis berjalan di tengah dinginnya lorong lorong kepiluan. Seketika itu ia teringat dengan seseorang di masa lalunya..
seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepingan hatinya, seseorang yang pernah berjanji delapan tahun silam "kelak kita akan bertemu lagi di musim semi yang indah ketika bunga sakura bermekaran" kata pemuda itu.
Selama itu gadis itu terus menunggu dan mencoba bersabar dengan melewati beberapa kali musim yang nampak tertawa menyaksikan kekecewaannya. Dari musim semi tahun pertama hingga musim semi hari ini, ia tetap menunggu, tak peduli dengan hatinya yang semakin hari semakin dingin dan rapuh.
Namun, ia tetap tak datang.. kini musim gugur sudah hampir tiba.. dan musim semi hampir berlalu.. bunga bunga indah musim semi hampir layu, jika musim semi tahun ini berlalu, itu berarti gadis itu akan memasuki tahun kesembilan penantiannya.
Kamis, 19 Februari 2015
kepada anda sang angin kenangan~
Kepada anda sang angin kenangan..
Angin tengah berhembus meniupkan sebuah kisah dan merangkai melodi melodi klasik dalam dedaunan yang perlahan menarikan tarian yang terbungkus dalam nada nada pilu.
Kepada anda sang angin kenangan, .ketika kucoba bertanya kepada dedaunan dan bunga matahari yang pernah tertiup menjadi saksi akan kehadiran anda, mereka tetap bisu dan tak mau menjawab siapakah anda.
Lalu kucoba bertanya kepada ilalang kering yang ketika anda lalui seperti hendak melambaikan tangan dan menyapa anda. Namun, mereka tetap hanya diam ketika saya menanyakan tentang siapa anda.. dan ketika ilalang itu kembali bergerak merekapun menjawab bahwa angin yang berbeda lah yang tengah mereka sapa..
Lalu kutanya kepada hatiku yang coba menerka nerka tentag siapa anda.,namun hatiku tetap tak mampu mampu menjawabnya..
Lalu harus kutanya kepada siapa... ?
Tolong.... bisakah anda katakan siapa anda?
Apakah anda mengingat saya?
Saya mungkin adalah satu dari ribuan bunga matahari yang pernah anda lewati, ah... mungkin anda sudah lupa...
Seperti ribuan bunga matahari yang lain, saya juga tersenyum saat anda melewati saya.bahkan anda sempat menceritakan banyak hal tentang impian impian anda. Anda lewat di depan saya dengan memberikan kesejukan yang tidak dapat saya definisikan... namun setelah itu yang tersisa dari anda adalah kenangan layaknya embun pagi yang seharusnya menghilang saat sang surya mulai naik ke singgasananya. Namun, di tangan saya kenangan itu justru tinggal menetap laksana embun yang beku dan terjebak di tengah hamparan kristal es.
Kenangan itu tak dapat saya cairkan ataupun sublimkan begitu saja.
Suatu waktu anda berkata kepada saya bahwa angin tidak dapat diam dan tinggal di tempat yang sama.. saya menangkap maksud yang tersirat dalam ucapan anda, bahwa anda tidak dapat terus berada di sisi saya..
Dan andapun pergi tanpa pernah menoleh sedikitpun.. ya.... anda seperti hilang termakan oleh kabut yang berusaha menyembunyikan anda .
Seiring dengan bergantinya puluhan kali musim semi, saya terkadang masih duduk diam dan bertanya tanya "apakah mungkin anda akan kembali? " dan dengan berakhirnya puluhan kali musim semi,saya mulai menemukan jawaban tentang sang angin kenangan..
Bahwa " angin tak dapat kembali ke tempat yang sama".....
sekali lagi saya bertanya? Siapa anda... kenapa saya harus terluka saat anda pergi dan tak pernah kembali lagi?
Saya hanya ingin mengucapakan selamat tinggal setidaknya saya ingin berterimakasih karena anda telah membuat saya tersenyum..
Minggu, 08 Februari 2015
Ribuan besok
Aku masih terdiam memandang ribuan rintik hujan yang terjatuh mengetuk tanah..
Ratusan ribu detik telah berlalu , namun waktu yang kulihat nampak seperti statis. Mungkin ribuan rintik yang jatuh telah menenggelamkan jarum jarum jam. Lalu kupikir waktu seperti diam saja ketika aku terdiam menunggu sesuatu di bawah rintik rintik bening .
"Bukankah seseorang pernah berkata tentang hukum relativitas?"tanyaku pada bayang bayangmu ..
"Kau tahu? Bagiku waktu itu sungguh sungguh sesuatu yang relatif. relatif terlalu lama untuk menunggu sosokmu.
Dan akupun mulai jenuh mencari bayang bayangmu yang mungkin tengah bersembunyi di tengah tengah rintik rintik yang nampak begitu melankolis.
Dan hari ini masih dengan perasaan yang sama, aku berharap kau datang hari ini.. Namun, masih dengan hasil yang sama.. Yang kurasakan adalah harapan yang tenggelam terbawa pergi oleh senja..
Ah... Mungkin bukan hari ini..
Mungkin saja besok, atau bisa juga besoknya lagi..
Atau mungkin setelah jutaan kata yang bernama "besok" , kau baru akan tersenyum di depanku dan berkata "aku disini" ..
Ya... Tentu masih dengan harapan yang sama seperti ribuan kata besok yang kuharapkan kemarin ..
Ah sudahlah.. Mungkin itu hanyalah sebuah jawaban dari harapan yang belum tiba hari ini. :)
Dan akupun mulai memutuskan untuk tidak lagi menunggumu di tengah ribuan rintik rintik hujan. Cukuplah aku mendoakanmu agar kau selalu baik baik saja.
Bukan lagi di bawah rintik hujan, mungkin sesekali aku akan mengingatmu lalu mendoakanmu di tengah lembar demi lembar kertas usang sebuah buku yang tengah kupahami..
Atau bisa jadi sesekali aku akan mengingatmu lalu mendoakanmu di sela sela rutinitas harianku di tengah ribuan manusia..
Tenanglah..... Aku akan tetap mengingatmu meski kadang terasa berat harus menggenggam harapan dengan kepingan hatiku yang tersisa.. :)



