Suatu ketika seorang gadis berjalan di tengah dinginnya lorong lorong kepiluan. Seketika itu ia teringat dengan seseorang di masa lalunya..
seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepingan hatinya, seseorang yang pernah berjanji delapan tahun silam "kelak kita akan bertemu lagi di musim semi yang indah ketika bunga sakura bermekaran" kata pemuda itu.
Selama itu gadis itu terus menunggu dan mencoba bersabar dengan melewati beberapa kali musim yang nampak tertawa menyaksikan kekecewaannya. Dari musim semi tahun pertama hingga musim semi hari ini, ia tetap menunggu, tak peduli dengan hatinya yang semakin hari semakin dingin dan rapuh.
Namun, ia tetap tak datang.. kini musim gugur sudah hampir tiba.. dan musim semi hampir berlalu.. bunga bunga indah musim semi hampir layu, jika musim semi tahun ini berlalu, itu berarti gadis itu akan memasuki tahun kesembilan penantiannya.
Tak terasa ribuan hari gadis itu telah menunggu, dan tanggal tanggal tetap bergulir konstan dan tak tahu diri, tak peduli dengannya yang masih setia duduk di bawah ribuan dedaunan musim gugur yang jatuh menerpa kepalanya. Pohon pohon sudah kering dahannya, ranting ranting nampak brgitu gelap dan tajam. Sesekali salju membekukan rerumputan dan ranting di sekitarnya. Mungkin sebentar lagi gadis itu juga akan ikut membeku bersama kerinduannya.
Dadis itupun menyerah... ia menyerah dengan hatinya yang telah membeku dan mengkristal bersama kekecewaan. Iapun meninggalkan sepucuk surat yang diletakkannya begitu saja di tengah tengah bangku panjang yang dikelilingi rating ranting yang hampir beku..
"Cinta di musim gugur,
Ketika cinta menyapa di musim semi..
Dua hati bermekaran..
Ketika mencintai dan menyukainya..
Musim dingin mencair digantikan musim semi..
Tapi sepertinya itu hanya ilusi dan dibuat oleh kisah fiksi dengan tokoh pangeran fiksi..
Aku menunggumu tapi waktu waktu bahkan tak pernah mengizinkanmu hadir..
Lalu cinta ini seperti musim gugur..
Daun kering berguguran..
Ketika dedaunan dan kepingan hatiku telah berserakan..
Yang tertinggal hanya ranting tak berdaun dan ribuan kekecewaan.
Menunggu salju yang dingin tanpa tujuan yang pasti..
Dan kubiarkan rasa sakit ini menjalani musim dinginnya..
Tapi ketika kelak musim dingin berubah menjadi musim semi, mungkin kau tak akan lagi menemukanku disini..
Mungkin saat itu, aku telah membuang semua kenangan dan kekecewaan.
Lalu aku melihat langit dengan warna biru yang cerah, mungkin saat itu aku akan merasakan hangat matahari di musim semi, aku akan melihat bunga bunga indah bermekaran.. dan saat itu mungkin aku sudah melupakanmu..
Entahlah..... mungkin dengan berubahnya puluhan kali musim, pun kau lupa sususnan huruf yang merangkai namaku, lupa dengan semua kisah dan janji delapan tahun lalu untuk datang tetsenyum menemuiku ...
Aku pun berjalan menjauh diikuti musim yang siap siap berganti warna, mentari yang sebentar lagi bersembunyi.. aku menjauh dengan langkah yang masih saja berusaha membuang namamu dari celah celah hatiku.. seperti bunga yang terselip diantara rerumputan kering.
Maafkan aku yang menyerah untuk tetap menunggumu di tempat ini "



Tidak ada komentar :
Posting Komentar