Sabtu, 19 Maret 2016

''seperti mimpi saja'' katanya


suatu senja ditepi kota nan nampak melankolis, ditemani rintik hujan nan sendu di pertengahan musim gugur. ditemani hembusan angin yang nampak egois meniup dan mengehempaskan dedaunan warna oranye kemerahaan di atas rerumputan nan lembab.


----pemuda musim gugur, Berlin---

rasanya seperti sudah  belasan kali musim gugur untukkku duduk sambil menunggunya disini. ya, aku melihatnya berjalan melewati tengah kota dengan senyum yang nampak tak asing bagiku, senyum yang membawaku teringat pada beberapa tahun yang lalu, entahlah... aku sudah mulai lupa, yang jelas aku yakin dia pernah lewat dalam kisah hidupku pada masa yang lalu. 


akhirnya dia datang dengan seyuman yang selalu aku rindukan, kau tahu terkadang waktu berlalu dengan kecepatan yang tak terduga, rasanya baru kemarin aku melihatnya menangis sambil berjalan tanpa melihatku di bandara saat kita terakhir bertemu beberapa tahun silam. rasanya juga baru kemarin aku melihatnya tersenyum saat ia masih berusia 19 tahun. entah sejak kapan aku bisa melihatnya dari jarak yang cukup dekat, melihat senyum simpulnya yang merekah di tengah tengah musim semi bulan april dan beberapa bunga bunga indah yang sering kulihat di pinggiran kota Berlin. dan... kuharap tetap seperti ini, seperti saat senja aku menunggunya di taman tepi kota sambil menantikan senyumnya yang hangat di tengah hujan dedaunan warna oranye kemerahan. 


-----gadis daisy, suatu kota di Indonesia----
----beberapa tahun silam---

jika kau bertanya seperti apa rasanya, rasanya seperti bau tanah yang basah karena hujan. seperti tanda untuk pertemuan pertemuan yang diakhiri dengan penantian maupun perpisahan

rasanya ingin sekali aku berteriak kepada pemuda yang berjalan semakin ke utara untuk berhenti dan sejenak melihat ke arahku untuk melambaikan tangan dan berkata ''tunggulah aku, aku akan sangat merindukanmu'' namun ironisnya aku hanya bisa melihatnya tetap dari arah selatan, ya... selatan, tepatnya di belakangnya. namun, apadaya hati yang begitu penakut seolah olah berpura pura menjadi tokoh protagonis dalam sebuah drama dan dongeng dongen penantian dengan lapang mengatakan '' ya.... kau.... lurus saja ke utara, tak perlu menoleh ke arahku, tenanglah.. aku tetap akan baik-baik saja meskipun menjadi selatan untukmu''.

rasanya seperti baru kemarin melihatnya, muncul dalam mimpiku sambil tersenyum lalu perlahan hadir dalam dunia yang bagiku bukan sebuah dunia fiksi yang aku kenali, bagiku dia seperti lingkaran lingkaran penting yang sengaja dipilihkan oleh kalender agar membawa setiap momen indah yang akan selalu kukenang. kuharap begitu... dan akan seterusnya begitu .


                                                 -----gadis daisy, Berlin Jerman----

seperti senja senja sebelumnya, dia dengan setia menungguku sambil duduk menikmati indahnya musim gugur di pinggiran kota. membawakan satu ikat daisy favoritku sambil tersenyum menanyakan kabarku. ''seperti mimpi saja, entahlah ini mimpi atau bukan, yang kutahu, hatiku 
masih tetap sama seperti saat pertama kali aku melihat senyummu di dalam mimpiku beberapa tahun silam. yang berbeda hanyalah garis tulang di wajahmu yang kini nampak terlihat lebih tegas dan kokoh, seperti ranting pepohonan musim gugur yang menjadi semakin kuat. dan tiap garis yang kuingat dalam pahatan wajahmu, membuatku semakin sulit untuk tidak merindukanmu''


ditulis oleh nurul hidayy , fiksi yang ditulis saat sedang susah untuk tidur

Tidak ada komentar :

Posting Komentar